Logo PP. Nurul Islam

Selamat Datang di Website PP. Nurul Islam

Logo PP. Nurul Islam

Gema Maulid Nabi dan Haflah Miladiyah ke-17 Ponpes Nuris: Rawat Tradisi Ulama, Lanjutkan Perjuangan Dakwah

Gema Maulid Nabi dan Haflah Miladiyah ke-17 Ponpes Nuris: Rawat Tradisi Ulama, Lanjutkan Perjuangan Dakwah
25 Aug 2026 Admin 11 views BERITA

MOJOKERTO – Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) 2, Mojokerto, pada Selasa (25/8/2026). Lantunan salawat menggema, menandai peringatan ganda yang sangat istimewa bagi keluarga besar pesantren: Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haflah Miladiyah ke-17.

Sejak awal, majelis agung yang juga disiarkan secara langsung ini telah dipadati oleh seluruh elemen pesantren tanpa terkecuali. Jajaran asatidz, dewan guru, hingga seluruh santri dari berbagai unit pendidikan bernaung dalam satu majelis. Mereka yang hadir berasal dari jenjang MTs 1, MTs 2, SMP UBQ, SMP 2 TS, MA 1, MA 2 AD, SMA GS, hingga satuan madrasah diniyah yang meliputi MDT-Wustha 1 N2, MDT-Wustha 2 N2, MDT-Ula N1, MDT-Ula 1 N2, MDT-Ula 2 N2, dan MDT-Ula 3 N2.

Rangkaian acara diawali dengan kehusyukan pembacaan Tahlil dan Surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan senandung salawat untuk memuliakan Baginda Rasulullah SAW. Memasuki pertengahan acara, gema salawat Ya Nabi Salam Alaika yang mengiringi seolah membius para santri dan hadirin dalam kerinduan yang mendalam kepada sang utusan akhir zaman.

Namun, ruh dari peringatan hari itu terletak pada Mauidhatul Hasanah yang disampaikan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Dr. KH. A. Siddiq, S.E., M.M. Dengan intonasi tenang namun sarat ketegasan, beliau menitikberatkan pesannya pada dua fondasi utama kehidupan seorang muslim: kualitas salat dan urgensi membersamai ulama.

Di hadapan ribuan santri yang menyimak takzim, Abah Kiai mengingatkan bahwa salat lima waktu bukanlah sekadar gugur kewajiban, melainkan barometer mutlak yang menentukan nasib seluruh amal ibadah manusia di akhirat kelak.

"Pertama kali yang akan dihisab oleh Allah, yang akan dihitung oleh Allah terhadap hamba-Nya kelak di hari kiamat adalah as-shalah, kewajiban salat lima waktu," dawuh Abah Kiai.

"Jika salatnya baik, seluruh amal ibadahnya akan baik, akan dihitung baik pula oleh Allah. Kalau salat lima waktunya rusak, tidak utuh dilakukan... maka seluruh amal ibadahnya akan menjadi rusak," imbuhnya menegaskan pentingnya menjaga tiang agama.

Tidak berhenti pada ibadah vertikal, Abah Kiai menyoroti realitas kehidupan sosial dan spiritual umat saat ini. Beliau mewanti-wanti para santri untuk tidak melepaskan tradisi mujalasatul ulama (duduk bersama orang-orang berilmu/ulama) usai menuntaskan pendidikan di pesantren nanti.

“Alaikum bimujalasatil ulama wastima'i kalamil hukama. Hendaknya kalian mampu membangun majelis duduk-duduk bersama dengan ulama, mendengarkan dawuh-dawuh para hukama (ahli hikmah)... Maka Allah menjanjikan, fainnallaha yuhyil qalbal mayita binuril hikmah, maka sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah. Maka hidupnya pasti bercahaya, hidupnya tidak akan pernah tersesat," tutur beliau.

Sebagai antitesis, Abah Kiai menyampaikan peringatan keras dari Rasulullah SAW tentang malapetaka bagi mereka yang menjauh dari ulama. Sebuah pesan yang menggetarkan majelis tentang fenomena akhir zaman.

"Sayati zamanun ala ummati yafirruna minal ulama wal fuqaha. Akan datang satu zaman menimpa umatku... mereka berlari menjauh dari kehidupan ulama dan fuqaha. Lalu Allah akan menimpakan kepada mereka dengan tiga bala," tegasnya.

Tiga petaka tersebut, rinci Abah Kiai, merupakan musibah terberat dalam kehidupan dunia dan akhirat. "Yarfa'ullahul barokata min kasbihim (Allah mencabut keberkahan dari usaha mereka), yusallitullahu taala sultanan doaliman (dikuasakan pemimpin yang zalim), dan yakrujuna minad dunya bighairi imanin (keluar dari dunia ini dengan tanpa membawa iman/suul khatimah)."

Pesan mendalam dari Abah Kiai ini menjadi refleksi spiritual yang mengantarkan acara menuju prosesi puncak Milad ke-17. Sebagai bentuk tahaddus bin ni'mah (wujud syukur atas nikmat), dilakukan prosesi pemotongan tumpeng. Momentum ini bukan sekadar selebrasi seremonial, melainkan simbol ikrar peneguhan komitmen seluruh keluarga besar Pesantren Nuris 2 Mojokerto untuk terus berada di garda terdepan dalam melanjutkan estafet perjuangan dakwah Rasulullah SAW.

Menjelang paripurna, ketegangan spiritual perlahan mencair berganti dengan kehangatan ukhuwah. Lantunan selawat Ya Badrotim dan Nurul Mustofa berkumandang syahdu mengiringi penutupan acara. (den)

Bagikan Artikel: