Logo PP. Nurul Islam

Selamat Datang di Website PP. Nurul Islam

Logo PP. Nurul Islam

Hari Santri Bukan Sekadar Upacara: Sudahkah Semangat Resolusi Jihad Kita Hidupkan?

Hari Santri Bukan Sekadar Upacara: Sudahkah Semangat Resolusi Jihad Kita Hidupkan?
22 Oct 2026 Admin 51 views RUBRIK MAJALAH

Pertanyaan ini bukan untuk mengecilkan arti Hari Santri. Justru, penghormatan terhadap perjuangan ulama dan santri terdahulu seharusnya mendorong kita melihat kembali tanggung jawab generasi sekarang. Jika dahulu perjuangan diwujudkan melalui upaya mempertahankan kemerdekaan, bagaimana semangat itu seharusnya hadir dalam kehidupan santri hari ini?

Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini mengingatkan kita bahwa santri bukan sekadar bagian dari sejarah bangsa, melainkan juga generasi yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depannya. Karena itu, peringatan Hari Santri semestinya tidak berhenti pada kebanggaan terhadap identitas, tetapi juga mendorong kontribusi nyata.

Resolusi Jihad dan Perjuangan yang Berubah Bentuk

Tanggal 22 Oktober 1945 menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama, dengan peran penting KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama. Seruan tersebut hadir ketika kemerdekaan Indonesia masih menghadapi ancaman dan menjadi salah satu penggerak semangat perjuangan mempertahankan tanah air menjelang Pertempuran Surabaya pada November 1945.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa pesantren turut mengambil bagian dalam perjalanan bangsa. Ilmu agama yang dipelajari di pesantren tidak hanya berkaitan dengan kehidupan pribadi, tetapi juga dapat menjadi landasan untuk mengambil tanggung jawab sosial dan kebangsaan.

Tentu, perjuangan pada masa itu tidak dapat disamakan begitu saja dengan keadaan sekarang. Kita hidup dalam situasi berbeda, dengan persoalan dan kebutuhan yang juga berbeda. Namun, nilai keberanian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama tetap relevan untuk diwarisi.

Hari ini, perjuangan santri dapat diwujudkan melalui kesungguhan menuntut ilmu, kejujuran dalam menjalankan amanah, kepedulian terhadap masyarakat, serta keberanian menghadapi persoalan dengan pengetahuan dan pertimbangan moral. Mengenang Resolusi Jihad bukan hanya tentang membanggakan masa lalu, melainkan juga memastikan bahwa ilmu yang dipelajari di pesantren membawa manfaat bagi kehidupan.

Menjadi Santri Tidak Cukup Hanya dengan Bangga pada Identitas

Menjadi santri tentu memiliki kebanggaan tersendiri. Ada tradisi keilmuan, adab, kedisiplinan, dan pembiasaan ibadah yang membentuk kehidupan di pesantren. Nilai-nilai tersebut merupakan bekal penting yang patut dijaga.

Namun, kebanggaan terhadap identitas perlu berjalan beriringan dengan kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Identitas santri akan memiliki makna lebih besar ketika tercermin dalam sikap dan tindakan, bukan hanya dalam sebutan atau simbol yang dikenakan.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, santri perlu belajar memilah informasi, memeriksa kebenaran berita, dan menggunakan media digital secara bertanggung jawab. Dalam dunia pendidikan, santri juga perlu membangun kebiasaan berpikir kritis, berani bertanya dengan santun, dan tidak mudah menerima informasi tanpa memahami dasarnya.

Kemampuan tersebut tidak bertentangan dengan adab. Menghormati guru tetap penting, tetapi proses belajar juga membutuhkan kesungguhan untuk memahami, bertanya, dan mengembangkan pengetahuan. Pesantren tidak perlu mempertentangkan tradisi dengan kemajuan. Tradisi menjadi pijakan nilai, sedangkan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan memperluas ruang pengabdian santri di tengah masyarakat.

Ilmu dan Akhlak Harus Terlihat dalam Tindakan

Ilmu dan akhlak tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Pengetahuan yang luas perlu disertai tanggung jawab dalam penggunaannya. Sebaliknya, niat baik juga perlu didukung kemampuan yang memadai agar dapat menghasilkan manfaat nyata.

Hal ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika santri kelak memasuki berbagai bidang profesi. Santri yang menjadi pendidik perlu mengajar dengan kompeten dan memberikan teladan. Santri yang berwirausaha perlu menjaga kejujuran dan tanggung jawab. Mereka yang terlibat dalam pelayanan publik perlu menjunjung integritas dan mengutamakan kepentingan masyarakat.

Kontribusi tersebut tidak harus dimulai dari posisi besar atau peran yang terlihat banyak orang. Kesungguhan belajar, ketepatan waktu, kejujuran dalam mengerjakan tugas, kepedulian kepada sesama, dan kesediaan memperbaiki kesalahan merupakan bagian dari proses membangun karakter.

Hal-hal itu mungkin tampak sederhana. Namun, kebiasaan bertanggung jawab dalam perkara kecil merupakan bekal ketika seseorang kelak dipercaya memikul tanggung jawab yang lebih besar. Jika Hari Santri mengajak kita berbicara tentang kontribusi bagi negeri, kehidupan sehari-hari seharusnya menjadi tempat pertama untuk membuktikannya.

Hari Santri Perlu Menjadi Momentum Evaluasi

Peringatan Hari Santri menghadirkan suasana khidmat dan kebersamaan. Upacara, doa, serta berbagai kegiatan menjadi sarana untuk mengenang perjuangan para pendahulu. Semua itu memiliki tempatnya masing-masing.

Meski demikian, keberhasilan sebuah peringatan tidak cukup diukur dari seberapa meriah kegiatan berlangsung. Hal yang tidak kalah penting ialah sejauh mana nilai yang diperingati memengaruhi sikap dan tindakan setelah kegiatan selesai.

Hari Santri dapat menjadi kesempatan bagi santri untuk mengevaluasi kesungguhan belajarnya, bagi pesantren untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, dan bagi masyarakat untuk memperkuat dukungan terhadap pengembangan generasi muda. Kecintaan terhadap pesantren tidak harus membuat kita menutup mata terhadap tantangan yang ada. Justru, upaya meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan santri menghadapi perubahan merupakan bagian dari tanggung jawab menjaga keberlanjutan pesantren.

Dengan begitu, Hari Santri tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi pengingat untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan.

Menguatkan Negeri Dimulai dari Santri yang Mau Bertumbuh

Tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” membawa harapan besar. Namun, masa depan Indonesia tidak dibangun oleh harapan semata. Ia membutuhkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.

Santri dapat mengambil bagian dalam proses tersebut melalui berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, penelitian, hingga pengabdian sosial. Nilai-nilai kepesantrenan dapat menjadi bekal moral untuk menjalankan peran itu secara bertanggung jawab.

Kita tidak perlu membandingkan perjuangan santri masa lalu dengan generasi sekarang secara berlebihan. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Yang perlu dilakukan ialah memahami nilai perjuangan para pendahulu, kemudian menerapkannya dalam keadaan yang dihadapi hari ini.

Hari Santri 2026 semestinya tidak hanya membuat kita bangga menjadi bagian dari dunia pesantren, tetapi juga mendorong kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah ilmu yang kita pelajari bermanfaat? Sudahkah akhlak kita tercermin dalam tindakan? Sudahkah kehadiran kita membawa kebaikan bagi orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak dapat dijawab dalam satu hari. Namun, melalui proses menjawabnya, semangat Hari Santri dapat terus hidup dalam keseharian.

Meneruskan perjuangan ulama bukan berarti mengulang masa lalu, melainkan menjaga nilai-nilainya agar tetap bermakna bagi masa kini. Santri yang menguatkan negeri bukan hanya mereka yang mengenang sejarah perjuangan, tetapi juga mereka yang bersedia terus belajar, memperbaiki diri, dan mengabdikan ilmunya bagi kemaslahatan bersama.

 


Jessy Nadzla Kumala Dewi

Program Studi Ekonomi Syariah (IUP) Institut Nurul Islam Mojokerto

 

Bagikan Artikel: